Bang Jali Mimpi Ketiban Duren di HUT Partai Gerindra

Posted on 859 views
DepokNews- Perayaan satu dasawarsa Partai Gerindra di Kota Depok, Dewan Kesenian Depok (DKD) tampilkan lenong Betawi dengan lakon ‘Bang Jali Mimpi Ketiban Duren’, di GDC, Sabtu (24/2/2018). Uniknya, lenong dimainkan kader dan anggota dewan DPRD dari Partai Gerindra Depok.
Momen perayaan HUT partai politik dijadikan skenario dalam lenong. Berkisah tentang dua saudara, Abdurrahman atau Bedur seorang anggota dewan dua periode yang memiliki karakter sombong dan banyak uang, diperankan Sekjen Partai Gerindra Depok Hamzah. Sedangkan saudaranya Jamaludin atau Jali yang diperankan anggota DPC Partai Gerindra Depok Jamaludin. Sosok Jali sendiri orang baru di dunia politik dengan modal pas-pasan. Keduanya bersaing di dunia politik, Bedur yang banyak uang dan berpengalaman akhirnya menang.
Jali yang frustasi karena sudan menjuam rumah, mobil dan hartanya pun akhirnya hijrah ke Gunung Pongkor, Bogor mencoba peruntungan sebagai pencari emas. Namun sebelumnya, Jali mengambil semua pemberiannya ketika masa kampanye. Seperti karpet, speaker di Madjid, semen semua diambil kembali karena kehabisan uang.

Singkat Cerita, Bang Jali menemukan sebongkah emas dan jadi kaya raya. Saat kembali ke kampungnya, ia melihat bendera kuning di rumah bang Bedur. Sampai masuk ke dalam ternyata bang Bedurnya meninggal. Datang KPU dan lainnya, di sana diumumkan, bang Bedur harus ada yang menggantikan dan penggantinya bang Jali.

“Di sana ia pun mengingat perbuatannya dulu. Sampai akhirnya ia berikhrar untuk tidak mengambil
gajinya sebagai dewan selama bekerja,” jelas Ketua DKD yang juga penulis skenario dan sutradaranya, Nuroji.

Nuroji melanjutkan, alur cerita dibuat ringan. Persiapannya pun tidak lama, penulisan skenario satu bulan dan latihan hanya enam kali. Meski pemainnya masih pemula tetap ada pakem lenongnya yang tetap dijaga, seperti pencak silat dan lawakannya diisi oleh pemain profesional.

Pesan moralnya, dalam berpolitik itu harus ikhlas, dengan begitu akan mendapatkan ganjaran yang baik pula. Menurutnya, orang politik yang gagal Nyaleg tersebut tidak serta merta menjadi stres dan menjadikan
pembelajaran bahwa tidak perlu juga mengambil lagi sumbangan yang telah diberikan.

“Ini berlaku juga di dunia nyata. Kami juga menyiapkan 2.000 porsi makanan gratis untuk penonton. Alhamdulillah ramai dan penonton tidak beranjak dari tempat duduk sampai pertunjukan habis. Ini menandakan masyarakat Depok haus akan hiburan rakyat seperti ini dan masih banyak yang setia dengan budaya lenong betawi. Ini yang perlu dilestarikan,” terangnya.

Nuroji menambahkan, kesenian juga bisa dijadikan media sosialisasi yang efektif bagi masyarakat. Seperti lenong bisa dijadikan sosialisasi perda atau undang-undang dari pemerintah. Isi perda tersebuat dituangkan dalam pertunjukkan.
“Sehingga orang tidak bosan dan lebih mengena jika melalui visual,” tutup Nuroji.(mia)