Oleh: Aisyah Nurmalsari

Depoknews- Sejak Maret lalu, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) memberlakukan sistem sekolah daring untuk setiap lembaga pendidikan demi mencegah penyebaran covid-19. Berbagai kendala sudah dirasakan para siswa sejak sistem ini dimulai.

Jasmine, siswi kelas dua SMP Sekolah Master (Masjid Terminal), Kecamatan Pancoran Mas, Kota Depok, Jawa Barat, mengaku sulit sekali memahami pelajaran daring. Tidak hanya itu, kesulitan terbesar bagi dirinya yang berasal dari keluarga kurang berkecukupan adalah kuota internet.

“Kendala terbesar itu kuota, kalau tidak ada kuota tidak bisa ikut belajar,” ujar sulung dari tiga bersaudara itu kepada Depoknews saat ditemui di pelataran masjid Sekolah Master, Rabu (14/10/2020).

Jasmine yang sejak Maret lalu mulai berjualan untuk membantu ekonomi orang tua dimasa pandemi ini mengaku tidak bisa mengikuti Penilaian Tengah Semester (PTS) kemarin dikarenakan tidak ada uang untuk membeli kuota. Untungnya para guru memaklumi kondisi tersebut dan memberinya tugas mengerjakan Lembar Kerja Siswa (LKS) untuk mendapatkan nilai PTS.

Jasmine juga mengatakan bahwa dirinya sempat mendapatkan bantuan kuota pelajar sebanyak 10 GB dari pemerintah. Sayangnya kuota tersebut tidak bisa digunakan.

“Waktu itu sempat dapat kuota, tapi tidak bisa digunakan. Sudah registrasi dan coba download aplikasi-aplikasinya tapi tidak bisa juga. Jadi ya sudah, dibiarkan saja, bukan rezeki,” ungkapnya diselingi tawa.

Ia juga mengaku hal tersebut tidak hanya terjadi pada dirinya saja, namun juga teman-temannya yang lain. Meskipun begitu, tidak ada usaha yang mereka lakukan untuk kembali mendapatkan hak tersebut.

Sama seperti anak-anak sekolah lainnya, Jasmine berharap bisa cepat kembali ke sekolah dan bertemu teman-teman. Selain itu, ia juga berkeinginan usahanya membantu orang tua dapat berjalan dengan lancar.

“Semoga covid-19 cepat hilang biar bisa kembali sekolah sama teman-teman dan jualan bisa lebih banyak yang beli juga,” tutupnya.