DepokNews–Puluhan Mahasiswa Mahasiswa Sekolah Tinggi Kulliyatul Qur’an (STKQ) Al-Hikam menjalani praktek pentashihan Al-Qur’an. Kegiatan tersebut merupakan rangkaian akhir dari Pembinaan Pentashihan Mushaf Al-Qur’an.

“Setelah mendapatkan beragam materi, sebagai materi terakhir mereka praktek pentashihan Al-Qur’an secara langsung. Secara back ground mereka ini adalah para santri Huffadz (penghafal Al-Qur’an 30 juz-red), jadi sudah tidak asing dengan bacaan yang tidak sama dan bisa langsung menemukan kesalahannya. Dengan hafalan juga menjadi bekal pentashihan,”ujar Kepala Seksi Pentashihan Al-Qur’an Kemenag RI Tuti Nurhayati. Auditorium STKQ Al-Hikam, Kukusan, Beji.

Tuti menuturkan, bahwa dalam prakteknya para peserta diberi naskah berbeda yaitu: yang asli sedang di tashih dan naskah yang sengaja dibuat kesalahan. Dalam praktek tersebut, lanjutnya, adalah mengajarkan bagaimana melatih, mengoreksi dan cara pembetulannya. “Dalam praktek itu juga para peserta diberikan kesempatan untuk mempresentasikan hasil pentashihannya,”terangnya.

Pihaknya juga membutuhkan pengkaderan tenaga baru yang bisa disiapkan sebagai tenaga yang membantu pentashihan Al-Qur’an. Selain itu, Pihaknya juga memberikan kesempatan untuk magang dalam pentashihan Al-Qur’an. “Kegiatan ini juga bagian dari Sosialisasi kepada masyarakat terkait pentashihan mushaf Al-Qur’an. Apalagi, sempat ramai di medsos bagaimana ditemukan Al-Qur’an palsu.

Diharapkan, generasi saat ini tahu bagaimana proses pentashihan atau sebelum penerbitan dilakukan pentashihan dulu. Setelah lulus tashih, baru mushaf Al-Qur’an diterbitkan,”paparnya.

Pengasuh Pesantren Al-Hikam KH. Yusron Ash-Shidqi mengapresiasi kegaiatan tersebut. Terlebih lagi, para mahasiswa yang juga santri ini setiap hari bersentuhan dengan hafalan dan teks Al-Qur’an. “Kita berharap kerjasama dan kegiatan ini terus dilanjutkan. Para santri ini mendapatkan manfaat dari kegiatan ini,”harapnya.

Sementara itu, salah satu peserta praktek pentashihan Al-Quran mahasiswa STKQ Al-Hikam Yusril Ihza Mahendra mengaku senang mengikuti acara tersebut. Ia menambahkan, saat praktek menemukan adanya kesalahan dalam naskah mushaf Al-Qur’an seperti: kurang harakat, kurang titik dan lainnya. “Acaranya seru karena ada pengalaman baru jadi sedikit paham tahu kesalahannya, dengan modal hafalan. Selain itu, juga pada mushaf braile,”terang santri dari Lombok ini.