Oleh: Fiiki Ridho Rabbina

Kepemimpinan profetik adalah kepemimpinan yang membebaskan penghambaan kepada manusia hanya kepada Allah semata. Kepemimpinan profetik dapat kita pelajari dan analisis dari kisah kepemimpinan para nabi dalam Al-Quran. Berikut merupakan 4 unsur kepemimpinan profetik yang perlu kita teladani:

Kepemimpinan yang Berilmu

Islam sebagai agama rahmatan lil ‘alamin memiliki sudut pandang tersendiri dalam memaknai dan memahamkan idealisme kepemimpinan dalam sebuah kelompok, institusi, negara dan bangsa. Dalam memimpin, hendaknya seorang pemimpin memiliki kemampuan atau keahlian dalam jabatan yang akan dipangku: “amanah terabaikan dan kehancuran akan tiba, bila jabatan diserahkan kepada yang tidak mampu.”

Prinsip ilmu atas profesionalitas maksudnya adalah semua pekerjaan itu dilakukan berdasarkan dengan ilmu pengetahuan, sebagaimana firman Allah:

“Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang kamu tidak mempunyai pengetahuan mengenainya,” (Q.S Al-Israa:32)

Kepemimpinan yang Kuat

Kekuatan memang diperlukan ketika seseorang pemimpin profetik memegang amanah kepemimpinan. Jangan sampai amanah besar diserahkan kepada orang-orang yang lemah. Muslim yang kuat lebih utama dibandingkan muslim yang lemah. Dalam sebuah riwayat dituturkan bahwa Rasulullah saw., pernah menolak permintaan dari Abu Dzar Al-Ghiffary yang menginginkan sebuah kekuasaan.

Diriwayatkan oleh Imam Muslim bahwa Abu Dzar berkata, “Aku berkata kepada Rasulullah saw: ‘Ya Rasulullah tidakkah engkau mengangkat sebagai penguasa?’ Rasulllah saw, menjawab: ‘Wahai Abu Dzar, sesungguhnya engkau orang yang lemah. Padahal, kekuasaan itu adalah amanah yang kelak di hari akhir hanya akan menjadi kehinaan dan penyesalan, kecuali orang yang mengambilnya dengan hak, dan diserahkan kepada orang yang mampu memikulnya,”

Kepemimpinan yang Amanah

Seorang pemimpin profetik yang amanah sebagaimana dicontohkan rasul-rasul terdahulu ialah orang yang memiliki kredibilitas dan integritas yang tinggi yang dapat dipercaya oleh masyarakatnya. Orang yang amanah tidak akan mudah goyah oleh godaan harta, tahta, dan wanita. Betapa banyak dalam sejarah kepemimpinan manusia, pemimpin-pemimpin yang akhirnya tidak amanah, hanya karena terbius oleh kehidupan mewah yang berlebihan, manisnya kekuasaan, dan akhirnya melakukan korupsi, kolusi, yang menyengsarakan bangsa dan negaranya.

Kepemimpinan yang Regeneratif

Daya regeneratif sangatlah diperlukan dalam segala bidang kepemimpinan. Bila kita gagal mewariskan kepemimpinan profetik kepada generasi penerus, maka kita gagal mewariskan kondisi yang lebih baik. Jangan sampai anak cucu kita hanya menjadi anak cucu biologis saja. Tetapi, jadikan anak-anak kita itu juga pewaris ideologis yang harus diperjuangkan.

Pemimpin profektif hanya puas ketika mereka dapat melahirkan generasi penerus yang lebih baik dibandingkan dengan era mereka. Oleh karenanya, mereka sangat serius dan memperhatikan pembinaan generasi penerus.

Referensi: Buku Seni Kepemimpinan Para Nabi Karangan Bachtiar Firdaus.