DepokNews – Sebanyak 33 peserta penyandang disabilitas yaitu 24 penyandang tunadaksa dan 9 penyandang tunanetra. Mereka mengikuti Ujian Tulis Berbasis Komputer Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (UTBK-SBMPTN) di Universitas Indonesia (UI). Pada hari keempat UTBK SBMPTN sesi ke-7 tersebut ditujukan bagi penyandang disabilitas tunanetra.

Kepala Biro Humas dan KIP UI, Dra. Amelita Lusia, M.Si. CPR, berharap mereka dapat mengerjakan soal-soal tanpa hambatan.

“Selama pelaksanaan UTBK di UI, baik di Kampus Salemba maupun Kampus Depok, kami menerapkan protokol kesehatan yang ketat. Kampus UI adalah wilayah wajib masker, sehingga dari mulai memasuki gerbang utama, semua orang termasuk peserta ujian wajib menggunakan masker kesehatan, bukan masker kain,” katanya.

Ia menambahkan, peserta ujian harus melalui pemeriksaan temperatur tubuh sebelum memasuki ruang ujian. Mereka juga harus mencuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir atau hand sanitizer.

“Kami sudah menyediakannya didekat pintu masuk menuju ruang ujian. Para peserta maupun panitia juga diminta menjaga jarak fisik minimal 1.5 meter dan menghindari kerumunan,” ujar Amelita.

UI menyediakan satu ruang ujian yang diperuntukkan bagi peserta penyandang tunanetra di Gedung Fakultas Ilmu Komputer, Kampus Depok.

Panitia sudah mempersiapkan perlengkapan ujian untuk peserta, seperti Reglet, Stylus, Kertas Braille dan juga headset untuk mendengarkan soal dari fitur screen reader yang diberikan oleh Lembaga Tes Masuk Perguruan Tinggi (LTMPT). Pada saat ujian, UI juga menugaskan pendamping pelaksanaan UTBK-SBMPTN untuk para peserta penyandang disabilitas.

Bagi peserta penyandang tunadaksa, UI menyediakan dua lokasi ujian di Gedung Fakultas Ilmu Komputer dan Gedung VIII Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, kampus UI Depok. Ruang ujian pada lokasi ujian tersebut tersebut berada di lantai satu dan memiliki aksesibilitas serta fasilitas bagi peserta disabilitas.

Setiba di lokasi ujian, panitia/pengawas UTBK di UI mendampingi mereka untuk penerapan protokol kesehatan, yang dimulai dari mencuci tangan, melakukan pengukuran suhu tubuh, hingga memandu memulai ujian serta menggunakan perangkat screen reader dan headset (alat bantu dalam membaca soal ujian lewat suara).