3 Sumbangsih Besar KH Hasyim Muzadi Untuk Kota Depok

Posted on

Depoknews.id – Kyai Haji Hasyim Muzadi pasti bukan tanpa alasan memilih lokasi pembaringan terakhirnya di Kota Depok. Bukan di Taman Makam Pahlawan atau pun di pemakaman keluarga.

Keinginan terakhir KH Hasyim Muzadi ini seakan memperkuat sumbangsihnya bagi warga dan Kota Depok. Setidaknya ada 3 kontribusi besar semasa hidup KH Hasyim Muzadi bagi warga dan kota Depok.

1. Mendirikan Pusat Studi Islam di Depok Pesantren Al Hikam

Area Pondok Pesantren Mahasiswa Al-Hikam Kota Depok berada di Jl. H. Amat No. 21 Kelurahan Kukusan Kecamatan Beji. Di dalam area seluas 2 hektar ini terdapat Sekolah Tinggi Kuliyatul Quran (STKQ), Taman Pendidikan Quran (TPQ), dan Pesantren Mahasiswa (Pesma).

Selain mendirikan STKQ Al-Hikam, KH Hasyim Muzadi berusaha mengintegrasikan dan mengombinasikan Mahasiswa Umum dengan Ilmu Agama melalui Pesantren Mahasiswa (Pesma). Melalui visi Mewujudkan Pesantren Mahasiswa sebagai pusat keunggulan dan rujukan dalam penyemaian potensi insaniah

KH Hasyim Muzadi bahkan berpesan agar jenazahnya dimakamkan di Ponpes Al-Hikam, Depok, Jawa Barat. KH Hasyim memilih lokasi itu karena ingin dekat dengan para santri.

“Saya ingat, beliau minta karena ingin dekat dengan santri,” kata menantu KH Hasyim, Arif Zamhari, kepada wartawan di Ponpes Al-Hikam, Kukusan, Beji, Depok, Jawa Barat, Kamis (16/3/2017).

“Agar bisa mendengarkan lantunan ayat Alquran dari para santrinya untuk beliau,” sambungnya.

Ahmad Sodiq salah satu kerabat juga menuturkan, bahwa dimakamkannya Almarhum di area Pondok Pesantren Al Hikam, di Jalan H. Amat No 21, Rt/RW 06/01 Kukusan, Beji merupakan wasiat KH Hasyim Muzadi.

“Ini memang sudah wasiat beliau sejak lima tahun silam. Beliau minta di kuburankan di area Pondok,” kata Sodiq, Kamis (16/3/2017).

Disamping wasiat Almarhum, alasan lain dikuburkan di area Pondok yaitu mempermudah para Santri dan keluarga untuk berziarah dimakam beliau.

“Jadi bisa mudah keluarga atau Santri berziarah atau berdoa. Makanya kita makam disini, ” ungkapnya.

Dijelaskan Sodiq, Pondok Pesantren Al Hikam merupakan hasil jerih payah Almarhum yang membangunnya. Untuk itu dengan adanya makam KH Hasyim sekitar pondok agar beliau bisa menikmati dan menyaksikan sendiri Pondok yang dibangunnya.

“Ini karya beliau yang luar biasa. Artinya dengan hal ini beliau bisa melihat langsung setiap aktifitas pondok, “tutupnya.

2. Menjadi Penasehat Kota Depok

Pimpinan Pondok Pesantren Al Hikam Depok, Jawa Barat, KH Hasyim Muzadi yang wafat pada usia 72 tahun membuat Wali Kota Depok Mohamad Idris merasa kehilangan figur ulama bangsa ini.

Idris yang juga satu almamater dengan Hasyim Muzadi di Pondok Pesantren Modern Gontor ini, memiliki kenangan tersendiri bersama sosok mantan Ketua Umum PBNU itu.

Idris berkisah, saat berjumpa dengan Hasyim Muzadi di Milad ke-90 Pondok Pesantren Modern Gontor di Ponorogo, Kyai Hasyim berpesan khusus kepada dia agar sabar mengemban amanah.

“Pesan beliau saat itu agar ente (Idris) harus sabar dalam menapaki langkah-langkah meniti jalan menuju kebaikan hakiki, istiqamah dalam mengemban amanah ini (wali kota), dan perhatian kepada masyarakat,” ujar Idris, menceritakan amanah dari Hasyim Muzadi, dalam keterangan tertulis, Kamis (16/3/2018) seperti dikutip liputan6.com.

Idris mengenang figur Hasyim Muzadi sebagai ulama aminin (terpercaya), yang menjunjung tinggi nilai-nilai keumatan, pengetahuan, dan implementasi maqashid syariah (tujuan diturunkannya syariah).

Idris mengaku kerap berkonsultasi ke Hasyim Muzadi dan selalu memperoleh jawaban memuaskan. “Sangat nampak dari semua jawaban-jawaban syariah dan persoalan sosial yang saya peroleh, saat pengajian ulama umaroh (pemimpin) MUI Depok dan acara lainnya,” ungkap dia.

Idris mengatakan dirinya memiliki kedekatan tersendiri dengan Hasyim Muzadi. Karena itu, dia merasa kehilangan dengan wafatnya kiai bangsa itu.

“Allah lebih mencintai hamba-Nya KH Hasyim Muzadi daripada cinta kita kepada almarhum. Karenanya, Allah panggil lebih dahulu Kiai yang kita cintai ini,” ujar dia.

Idris merasa kehilangan sosok guru karena kiprah dan bakti Hasyim Muzadi kepada bangsa Indonesia, khususnya Kota Depok. Sebab, kegiatan pembinaan mahasiswa di Pesantren Al Hikam memberikan citra positif kepada Depok.

“Juga tentunya keberkahan para penghafal Alquran dari pesantren beliau. Selamat jalan ayah, buya, sang kiai kharismatik dan cerdas. Semoga kami dapat melanjutkan cita-cita dan harapan Pak Kiai,” ujar dia.

3. Menjadikan Pesantren Sebagai Fasilitas Untuk Kemaslahatan Warga Depok Khususnya

KH Hasyim Muzadi adalah termasuk salah satu tokoh nasional yang tetap mau dan hadir di acara-acara yang diselenggarakan di level masyarakat dan kota.

Kesaksian ini disampaikan wakil walikota Depok Pradi Supriatna yang mengatakan, dengan kehadiran KH Hasyim Muzadi dan Pesantren Al Hikam. Banyak kegiatan yang dapat dimanfaatkan warga Depok, khususnya di bidang pendidikan. Dengan tujuan memperkuat akidah dan menjaga kultur ukhuwah warga Depok.

“Kami sangat kehilangan, beberapa event kami kerjasama dengan beliau, baik majlis taklim pemuda yang sudah disiapkan beliau, sangat luar biasa,” jelasnya.

Pradi pun mengingat Terakhir saat bertemu KH. Hasyim Muzadi ketika acara Maulid Nabi. Dalam kegiatan tersebut, KH. Hasim Muzadi nampak sudah tidak sehat namun tetap hadir meskipun hanya 15 menit saja.

“Itu pertemuan terakhir dengan beliau. Beliau tokoh karismatik agama yang memang bisa merangkul semua kalangan dan itu patut dijadikan contoh,” terangnya.

Pesan beliau adalah menjaga kebersamaan, akhlakul karimah, jaga perkataan, perbuatan kalau mau selamat dunia akhirat.

“Beliau mau hadir setiap ada undangan, atau sekedar memakai tempatnya pun dipersilakan asal digunakan untuk kemaslahatan. Kami sangat beruntung beliau tinggal di Kukusan,” ujarnya.

KH Hasyim Muzadi lahir di Tuban, Jawa Timur, pada 8 Agustus 1944 dari pasangan H Muzadi dengan istrinya Hajah Rumyati. Hasyim menempuh pendidikan dasarnya di Madrasah Ibtidaiyah di Tuban pada 1950. Hasyim lantas melanjutkan pendidikan pesantren di Pondok Pesantren Modern Gontor Ponorogo selama 12 tahun.

Lulus dari Gontor, Hasyim Muzadi masih melanjutkan pendidikan pesantren di Tuban dan Lasem, Jawa Timur. Setelah itu, Kiai Hasyim menuntaskan pendidikan tingginya di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Malang, Jawa Timur pada 1969.