Sepuluh Pemuda Pengguncang Dunia

Seakan pekik Bung Karno ”Beri Aku sepuluh pemuda, niscaya akan kuguncang dunia.” tak pernah lapuk tergerus zaman meski beliau telah lama tiada. Walau demikian, permintaan Bung Karno tersebut belum terpenuhi hingga saat ini. Buktinya, Indonesia belum mampu mengguncang dunia malah yang terjadi negeri subur ini diguncang dunia.

Teringat akan film kartun Dragon Balls.   Bola naga yang dicari karena kekuatan di dalamnya, tersebar di seluruh dunia. Penulis mengibaratkan, ada sepuluh pemuda Indonesia pula yang tersebar di segala penjuru dunia. Diantaranya ada di tanah air Indonesia, luar negeri seperti Inggris, Jerman, Cina, Jepang, Amerika, Iran, Mesir dan salah satu yang paling menentukan ada di Moskow, Rusia.
Kesepuluh pemuda itu bisa dipastikan tidak pernah bertemu Bung Karno secara langsung tapi tekad mulianya senantiasa bersemayam dalam hati sanubari mereka. Para pemuda harapan bangsa itu begitu gelisah akan nasib bangsa selama ini. Sejatinya, mereka ingin merubah keadaan yang terjadi sekarang dengan cepat tanpa mengundur-undur waktu. Namun tersadar akan kualitas diri yang harus ditingkatkan mengingat tantangan sangatlah berat, merekapun bersungguh-sungguh mempersiapkan diri hingga saatnya tiba.
Dalam “pertapaan” menempa diri, mereka rela mengasingkan diri dari hiruk-pikuk kehidupan penuh gemerlap sebagaimana kawan-kawan seusia larut di dalamnya. Bahkan aneka ejekan, tertawaan dan sematan buruk yang datang dari saudara sebangsa juga setanah air, tak mereka hiraukan.

adsense-fallback

Sementara kaum tua dan pihak asing yang jahat, diam-diam memantau gerak langkah para pemuda patriotis ini. Tak cukup memantau, mereka yang cemas kelak posisinya akan terancam berusaha melemahkan tekad para pemuda tangguh. Bermacam cara mereka lakukan, yaitu mengiming-imingi dengan jabatan politik semu, menawarkan fasilitas duniawi yang menggiurkan; menakut-nakuti bahwa berjuang demi rakyat itu getir dan sengsara. Kejamnya, mereka juga menyiapkan perangkap mematikan jika kesepuluh pemuda tetap teguh memegang prinsip dan gagal dilumpuhkan oleh rayuan juga teror.
Alih-alih membiarkan sepuluh pemuda membekali diri dengan ilmu dan sebagainya, orang-orang jahat yang berharap Indonesia tinggal sebuah nama dalam sejarah dunia begitu gigih meracuni generasi muda. Bagi mereka yang jahat, kaum tua sudah ditaklukkan dan sebagian yang lain tidak berdaya lagi untuk melawan.
Sungguh berat tugas yang diemban oleh kesepuluh pemuda harapan bangsa ini nanti. Keprihatinan, kegetiran dan suguhan tidak mengenakkan terbayang jelas di mata mereka. Seringkali satu atau dua di antara mereka merasa takut untuk melanjutkan perjuangan berat yang bisa berujung kematian. Belum lagi orang-orang terdekat mengingatkan dengan nada penuh khawatir akan resiko yang bakal dihadapi selama berjuang.

Namun mereka senantiasa saling menyemangatkan satu sama lain.  Mereka paham bahwa niatan mulia berjuang untuk bangsa sangat sulit diwujudkan apalagi tercapai tujuan bersama. Begitu juga dalam berjuang untuk rakyat, pasti membutuhkan pengorbanan yang tidak sedikit.
Berbicara perjuangan demi bangsa dan negara tercinta, tidak ada istilah baginya ”Kalian di depan saja, biarlah saya mendukung dari belakang” atau “Saya di depan asal kalian mendorong dari belakang.” Pemuda Indonesia bersatu padu layaknya barisan, lalu kompak berkata, “Kami ada di tengah, samping kanan dan kiri, merapatkan barisan, lalu berjalan bersama beriringan dan bergandengan tangan saling menguatkan di saat yang lain terkulai dalam berjuang sampai dunia benar-benar terguncang.”

Kamukah salah satu dari sepuluh pemuda itu?

Kalau iya, temani aku dan bersiap mengguncang dunia untuk Indonesia.(*)

#sumpahPemuda | kabarindonesia.

adsense-fallback